15 Agustus 2011

Kunjungan ke America center

0 komentar
Assalamu'alaikum wr.wb.

Mudah-mudah belum terlambat, mudah-mudahan ada manfaatnya.
Hari Selasa kemarin, (3-Agstus-2011) serombongan santri MA Attaqwa Pusat Putra, dari Pondok Pesantren Attaqwa Putra menghadiri undangan presentasi oleh American Center @America, di Mal Pacific Place, SCBD Jakarta. Registrasi sudah dilakukan 1 minggu sebelum jadwal undangan yang ditentukan. Berjumlah sekitar kurang lebih 150 santri, sesuai dengan jumlah yang diisyaratkan pihak organizer, dengan seragam peci hitam, jas hitam dan celana hitam, didampingi 5 guru pembimbing (termasuk saya) mengenakan seragam peci hitam, batik orange, dan celana hitam. Kami diantar-jemput 3 unit bus yang sudah standby sejak jam 6 pagi. Setalah mendapatkan sedikit briefing dari Kepsek MA Attaqwa Putra, H. A. Masilla, Lc., M.MPd., kami pun berangkat sekitar jam 10.30 pagi.

Setelah melalui perjalanan yang biasa dihiasi dengan kemacetan ibukota, kami sampai di lokasi parkir seberang gedung mal sekitar jam 12 siang. Kami belum bisa langsung diterima oleh pihak organizer, karena harus menunggu peserta yang masih mengikuti kegiatan ditempat dilangsungkannya acara tersebut. Baru jam 1 siang kami bergerak menuju mal, itupun kami harus berjalan mengikuti seorang guide menuju masjid yang katanya berada diseberang mal, sehingga sedikit mengakibatkan macet di sekitar SCBD, sekaligus menarik perhatian para hadirin yang mungkin terkesan dengan seragam yang kami kenakan. Nasib, kami tidak berhasil sholat zuhur didalam masjid yang kami tuju, dikarenakan gerbang dan sekaligus masjidnya digembok alias tertutup. (dalam obrolan sesama pendamping kami berkelakar: aneh ya masjid ini, saat masjid-masjid lain berlomba open house, yang ini malah tutup. HERAN!. Jangan-jangan ini masjid Dhirar?!?). Kami pun kembali membuat kemacetan karena harus kembali ke dalam mal, disamping karena jadwal presentasi sudah harus dimulai, kami pun sepakat sholat Zuhur bergiliran menggunakan musholla yang ada di mal.

Di depan @America, dalam mal, para santri harus line-up, sekitar 10 orang masuk bergantian. Ada juga yang sambil menunggu giliran langsung menuju kebawah untuk sholat, dipimpin oleh Ust. Ghozi dan Ust. Mirwan. Saya bertiga, Ust. A. Sofyan dan Ust. A. Muiz juga akhirnya sholat setelah semua santri masuk gate. Setelah sholat kami langsung kembali ke gate, di situ baru kami tau bahwa pihak organizer melakukan pemeriksaan berlapis, kemudian menelusuri gate selanjutnya untuk pemeriksaan kembali (dalam hati saya berkata: so much suspicious. apakah presedur ini berlaku juga kepada mereka yang tidak berpeci, dan berpenampilan lebih trendy?!)

Acara dimulai, dipandu oleh dua orang host, mas-mas dan mbak-mbak. Ternyata akan ada dua pemateri yang akan menyampaikan materi masing-masing. Yang pertama melakukan presentasi adalah seorang wanita native Amerika, kalau tidak salah dengar namanya Kate....(something). Karena menyesuaikan dengan kemampuan para santri yang mayoritas awam dalam berbahasa inggris, Kate menawarkan audience untuk memilih bahasa pengantar: English or Bahasa. Sontak saja audience yang hanya dihadiri oleh para santri memilih BAHASA. Kate pun mau-tak-mau bersedia menyampaikan presentasinya. Yah, itung-itung sambil belajar melancarkan vocab bahasa Indonesia yang ia sudah punya. Ternyata dari awal-akhir presentasi, saya bisa bilang kemampuan Bahasa-nya lumayan bagus, walapun sedikit terbata-bata dengan aksen mother tounge -nya yang tetap terdengar sangat kentara.Kate menyampaikan materi tentang Agama dan Budaya.

Pada slide yang disampaikan, diawal, Kate menyampaikan bahwa Amerika Serikat, United States of America, adalah salah satu negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya. Terlihat pie-chart di slide, ada porsi-porsi yang diisi oleh beberapa agama mayoritas dan minoritas, masing-masing berbagi porsi kuantitatif yang berbeda.Dijelaskan bahwa, walaupun masyarakat Amerika memiliki keyakinan yang berbeda-beda, mereka sangat menghormati satu sama lainnya, tidak ikut campur terhadap keberagamaan pemeluk lainnya, bahkan kepada yang memilih untuk tidak memilih agama, alias atheis.Dari sudut pandang budaya juga disampaikan, bahwa di Amerika berbaur budaya yang sangat beragam, dan betapa Amerika sangat menghargai semua budaya yang ada.

Presentasi selanjutnya disampaikan oleh seorang wanita, yang saya yakin umurnya masih sangat muda (below 24 i think). Tapi kemampuannya dalam menyampaikan materi dengan berbahasa Inggris patut diacungi jempol. Baik dari vocabs, pronounciation, atau mungkin grammar. Overall, good job, I like it. Namanya Kartika.

Diawal penyampaiannya, Kartika berusaha memancing keingintahuannya terhadap kemampuan audience yang hadir dalam berbahasa inggris. Setelah cukup, ia pun tetap menggunakan English saat presentasi, she mixed English and Bahasa, one after another. Ia menyampaikan pengalamannya ketika mendapat kesempatan bersekolah di salah satu negara bagian di amerika. Kesimpulannya, masyarakat amerika sangat terbuka terhadap agama, budaya, dan perbedaan lainnya. Memang ada yang kaya, tapi tidak sedikit yang hidup dalam kemiskinan.

Materi selesai, dilanjutkan dengan tanya jawab dengan para pemateri, kemudian kuis. Para santri di bagi dalam beberapa kelompok, masing-masing menggunakan electrical vote untuk memilih jawaban yang tepat dari pertanyaan-pertanyaan dalam bahasa Inggris yang terpampang di slide. Satu kelompok menjadi pemenang, dan mendapat bingkisan. diakhir acara pun Kami semua pun yang hadir mendapat souvenir, satu ballpoint. Lumayan untuk kenang-kenangan. Acara selesai, dan anak-anak pun langsung bikin formasi untuk berfoto.

Sebelum kami ada sekolah lain yang hadir lebih dulu, dan hampir setiap hari akan ada sekolah yang akan hadir ditempat ini. Menurut informasi dari kakak saya, Pon-Pes Attaqwa Putri juga menerima undangan yang sama, klo tidak salah minggu depan. Belajar dari pengalaman ini, dialog tanya jawab lebih diutamakan kepada para siswa dibanding para pendampingnya. Klo boleh saran, sepertinya para pemateri perlu dikasih pertanyaan yang lebih berbobot.

Pelajaran yang saya ambil: Saya masih meraba, apa maksud diundangnya sekolah-sekolah untuk hadir di @America. Selain itu, yang juga tak kalah penting adalah kemampuan santri kelas X-XII MA Attaqwa Putra dalam berbahasa Inggris masih sangat jauh tertinggal, tugas para guru dan kita semua untuk memperbaiki seiring dengan kebutuhan bahasa international yang sangat mendesak.

Note: tulisan ini adalah pengalaman pribadi, sangat mungkin pendamping lainnya memiliki pandangan yang berbeda.

Wassalamu'alaikum wr.wb. 
Achmad Fauzan

Nurul Amin says :  

Thank you Mr. Fauzan for your report. It's very nice.
By the way, Madrasah Aliyah Attaqwa has a good headmaster in english.
So, I think and believe, he can empower his students in english ability...if he want.:) happy

Achmad Fauzan Says :
I do very much agree to you ustadz Amin, I believe so, he has a very good English. But the problem is how to encourage students. When we're on the bus on the way to the site, I heard some students turned-on kinds of music on their mobiles, in Bahasa, some in arabic and English as well, and they're singing their songs. I'm not sure if they understand what they're singing, especially for the english ones. However, the condition is not applied to all of them, some are good. Unfortunately, not too many of them.
Yes, if he want to...:)

Ust. Masilla Says :
mudah2an kunjungan ke @america ada manfaatnya, seiring dg masih malu2nya anak kita untuk berbahasa inggris, krn guru2nya jg masih malu2 berInggris, program kursus yang diadakan 2 x dalam seminggu, yg di handle oleh guru2 yg berpengalaman, mr jamhari (mantan guru The Jakarta International School) and friends, semoga ada hasil yg baik bagi masa depan english di attaqwa, sekali lagi support dan dukungan dari guru2 dan alumni akan sangat berharga bagi kemajuan attaqwa, kami tunggu saran dan masukannya, krm saja ke email saya

Nurul Amin Mu'thi Says :
Yang disampaikan Guru Masilla ada benarnya. Berbagai program telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas kebahasaan siswa (both written and spoken). Namun, masih dijumpai mayoritas (bahkan semua) siswa tidak bisa berbahasa Inggris. Analisis awal, penyebab ketidakmampuan mereka dalam berbahasa Inggris bukan karena sistem atau program yang dicanangkan.

Lalu, apa penyebabnya?
(Guru Masilla, saya mohon maaf atas analisis iseng yang saya buat, ya?)

Penyebab utama ketidakmampuan siswa dalam bahasa Inggris adalah kurangnya (bahkan tidak adanya) sumber daya manusia yang berkualitas dan kompeten dalam bahasa tersebut. Guru-guru tidak bisa berbahasa Inggris. Turunan dari ketidakmampuan ini bercabang tiga. Pertama, tidak terciptanya lingkungan keinggris-inggrisan. Kedua, tidak ada pengutamaan bahasa Inggris. Ketiga, tidak terbangunnya kesan positif dan motivasi belajar pada diri siswa.

Dari sekian banyak kesulitan belajar bahasa Inggris (Sila lihat selengkapnya di http://wahyudienglish.wordpress.com/2008/06/13/belajar-bahasa-inggris-sulit-masalah-dan-solusi/), ketiga turunan di atas jalin-menjalin.

Solusinya?
Wajibkan guru-guru untuk berbicara dalam bahasa Inggris anytime, anywhere, and anything!

...
:D big grin
...

(Maaf ya, Guru.)
Saya juga ga yakin solusi itu akan berhasil atau tidak karena bukti kegagalannya sudah ada. Salah satunya, guru-guru berlatar belakang pendidikan dari Arab cukup banyak, tetapi berapa banyak dari mereka yang berbahasa Arab? Bagaimana dapat menelurkan dan menularkan kepada para siswa,  jika bahasa tersebut bukan dianggap suatu kebanggaan: jika lingkungan kebahasaan tidak diciptakan: jika motivasi belajar bahasa tidak terbangun?

Tapi, kemungkinan untuk berhasil juga ada. Contohnya, saya pernah beberapa jam di rumah Bang Cecep. Walau hanya mendengar beberapa patah kalimat percakapan Bang Cecep dengan sang istri dalam bahasa Inggris, itu memberi pelajaran berharga bagi saya untuk sekadar mempraktikkannya dengan istri dan anak di rumah serta dengan rekan dan kolega di kantor. Ternyata model ini mengindikasikan sebuah langkah dan proses pendidikan dasar yang sangat baik untuk menanamkan keterampilan berbahasa bagi siapa pun.

Tapi, lagi-lagi, semua itu berpulang kepada diri kita, apakah kita sendiri sudah bisa berbahasa Inggris atau belum.
Seperti ucapan saya kepada Satrianegara, putra kecil sy yang belum genap tiga tahun, "Are you thirsty? Do you need milk?" Tanya saya sambil memegang botol susu miliknya.

Ia tersenyum ringan sambil bergumam, "He eh."

Incredible!


Cecep MH says : 
Sependapat Guru NAM.
Menurut hemat saya perlu upaya besar dan radikal untuk menciptakan disiplin yang baik dalam mengembangkan kemampuan berbahasa. Bukan saja bahasa Inggris dan Arab, tapi bahasa apapun. Karena kedisiplinan akan menciptakan lingkungan. Lingkungan ini yang diperlukan sehingga orang akan terbawa sendiri untuk menyesuaikan tanpa harus dipaksa.
Attaqwa pernah mengalami hal itu meskipun ketika saya masuk pada tahun 1980 situasi itu sudah menghilang. Setiap santri menurut cerita harus berbahasa inggris atau Arab. Yang melakukan kesalahan secara sadar membayar sangsinya kepada bagian keamanan. Menurut cerita almarhum guru Tajuddin, dulu saking takut pada aturan dan didorong ingin bisa dua bahasa itu, sering terjadi cerita lucu. Misalnya tentang santri yang mencampur gaya bahasa indonesia dengan bahasa inggris atau Arab Cerita tentang "little-little to me, little-little to me..." (Sedikit-sedikit, ke saya) atau "Ja'a ja'a ghodob..." (Dateng-dateng marah) dan "la'ab-la'ab faqot" (main-main saja) adalah bukan cerita karangan semata.

Buat saya hal semacam itu lumrah dan bisa memperkaya bahasa, walaupun guru saya di LIA mengecamnya sebagai perusakan. "you will spoil the language" katanya.

Masalahnya kapan kita memulainya? Punyakah kita kemauan untuk mengembalikan kejayaan itu?
"Nak seribu daya, tak nak seribu dalih" kata pepatah melayu.

Wallahu A'lam

Nurul AMin Says :
Hahaha 33 x...:D big grin:D big grin:D big grin

Bang Cecep mengungkapkan memori indah yang saya sendiri pernah mengalaminya dulu. Suatu hari, saya mendapat jadwal piket. Salah satu tugas saya adalah meminta tanda tangan guru sebagai tanda presensi kehadiran. Yang paling ditakuti adalah Guru Rofii. Beliau tidak mau KBM-nya diganggu, tetapi tanda tangan beliau harus didapatkan saat KBM berlangsung. Karena saya takut, saya serahkan kertas presensi ke kawan saya, Nasrulloh (Uloh/Ukong), anak Kaliabang Poncol. Saya ajari dia sedikit bahasa Inggris dengan harapan agar Guru Rofii tidak mengusir kami.

Si Ukong yang emang cuek orangnya, pun masuk ke ruang kelas Guru Rofii. Sebelum Guru Rofii marah-marah, si Ukong udah nyapa duluan, "Greeting for you, Teacher. Excuse me."

Guru Roffi dan seisi kelas (Kalau tidak salah kelas III Aliyah periodenya Kak Sodikin, adiknya Ustaz Hamdani Nijan) di depan Aula Serbaguna terdiam. Guru Rofii tidak marah. Ia memanggil si Ukong. Saya hanya berdiri di luar.

"Who are you?" tanya Guru Rofii.

Si Ukong kelimpungan. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Wajar kalau ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kami belum latihan.

"I need your signature, Sir!" jawab si Ukong.

Seisi kelas tersenyum. Guru Rofii pun nampak tersenyum kecil. 

"What is your name?" tanya Guru Rofii lagi.

"Thank you, Sir. Assalamualaikum," jawab si Ukong yang nampak agak kebingungan. Seisi kelas tersenyum-senyum menahan tawa.

"Sini," kata Guru Rofii. Si Ukong pun menghampirinya. Guru Rofii mengambil kertas presensi dan menandatanganinya. Setelah bersalaman, ia pun berpamitan dan keluar ruangan. Alhamdulillah, ucap kami. Akhirnya kami dapat tanda tangan beliau dan tidak dimarahi.

"Kok tadi lu jawabnya gitu?" tanya saya.
"Pertanyaannya laen. Lu bilang, setelah excuse me, what are you doing here? Setelah Pergi sana!, thank you, Sir. Assalamualaikum," jawab si Ukong polos.

Hahahaha..33 x lagi.....:D big grin:D big grin:D big grin

Abd Hayi Says : 
Reading both of your sharing is very encouraging. And I think we have found that the most critical point here is that Attaqwa student don't find the encouraging environment to improve and use their English language.

And We all know that language is not a knowledge, but an ability and skill. And to sharpen our ability and skill there is no way else except by using it frequently, as much as we can. And we really know that if we don't use it we will lose it.

While there is no environment like that on the ground of Attaqwa, I think we can use this cyberspace to do so. We have group in Facebook, and mailing list here in yahoo groups.

And I think our human resources are also very sufficient. We have Mr Jamhari who has a long long time of experience in teaching in international school which it's primer language is English language. We have brother Husni Mubarok who are known for his ability in English language, and he has learned English Language
in America also. And I still have curiosity about his "new formula" to boost the ability of English language. And waiting for his sharing about his "new formula".

We have brother Didi Supandi and Iman Fajlurrahman who have learned English Language in Pare. We have brother Cecep who has written many articles in English Language and has traveled around the world with his English Language. We have brother Inayatullah who is his article in English Language just published few
weeks ago.

And the list will continue to expand...

In my humble opinion, if all of those human resources share their behavior in using English language in our cyberspace, they will make big impact to others around them, and especially to the members of Attaqwa group in Facebook or mailing list. And this trend will be the trend setter in the ground of Attaqwa as the time goes on.

This is just my 2 cents..





0 komentar:

 
arsip Milis | © 2011 Design by DheTemplate.com and Theme 2 Blog

Find more free Blogger templates at DheTemplate.com - Daily Updates Free Blogger Templates