Cukup memilukan memang ! sederetan kasus yang belakangan terjadi "perebutan kue". baik "kue nasional hingga kue lokal" (istilah saya). Kue nasional lagi ramai direbutkan untuk mendapatkan kursi parlemen sedang kue lokal untuk mendapatkan seonggok makanan hanya untuk menganjal perut. Kesan tesebut mulai teringiang dalam ingatan kita tentang pembagian zakat yang tidak terkoordir dengan baik hingga dari sekian kaum dhuafa menjadi korban karena "kue lokal" tadi. Saya rasa tidak hanya at taqwa di beberapa tempat telah terjadi proses distribusi kue lokal yang tidak adil. Ini ada apa ? yang imbasnya nanti akan tercermin dalam pembagian "kue nasional".
Berbicara "kue lokal" semua lapisan masyarakat beranggapan bahwa "kue lokal" akan menjadi penyelesaian, ketika perut kaum dhuafa yang terancam oleh "lapar" kian menghantui untuk bersikap lebih progresif, anarkhis dan maen hantam, akibatnya upaya untuk mendapatkan "kue lokal" tersebut tidak mengindahkan ancaman bagi diri kaum dhuafa (saya rasa kita semua bila merasakan lapar). Apalagi di hembuskan isu akan kehabisan untuk mendapatkan "kue lokal" tadi, himpitan dan desakan tak terelakkan yang pada gilirannya nyawapun melayang. Pertanyaan yang muncul adalah "mengapa harus terjadi" di negeri yang subur gempah ripah loh jenawi ?
Sekedar untuk menjawab hal ini bukan untuk mevonis siapa yang salah dalam praktek distribusi. Panitia kah ? atau orang-orang kita yang kurang sabar menanti bagian ? secara bijak hadrotu syekh Mbah Chollil bangkalan pernah menuturkan cerita "pernah suatu kali ketika Mbah Cholil Bangkalan tertawa dalam sholat berjama'ah dia melihat se-orang Imam yang menurut kalangan pesantren terkenal alim dan abid, lalu semua jama'ah heran dengan kelakuan mbah Cholil yang dianggapnya telah mengacaukan peserta sholat berjama'ah.. Sampai membuat si Imam tadi marah, lalu Mbah Cholil di tanya "kenapa kamu tertawa geli dalam sholat". Di Jawab oleh Mbah Chollil saya melihat bapak tadi perutnya berbunyi "kerucuk-kerucuk" hingga bergoyang-goyang dan didepan bapak saya melihat ada makanan nasi besek yang begitu enak.. Tak heran karena ketajaman mata batin Mbah Cholil, Imam tersebut tertunduk.
Yang menarik lagi ketika Guru kita Hadrotu Syekh Kyai Noer Ali pernah dalam perjalanan peperangan semua pasukan hampir kelaparan, dengan kemulyaan ilmu dan amalnya Allah. Beliau berdo'a dan bermunajat agar didatangkan makanan untuk pasukannya yang hampir tenaganya terkuras lemas dari perjalanan yanga sangat jauh untuk melawan belanda. Saat itu juga, makanan kiriman dari Allah datang dan Kyai mempersilahkan kepada seluruh pasukan untuk makan dan tidak boleh ada yang tersisa. Namun ada salah seorang pasukan yang berani melawan titah Kyai. Ia tidak menghabiskan makanannya namun menyisakan untuk perjalanan berikutnya. Tapi apa yang terjadi makanan yang ia sisakan dalam tasnya semakin berat. Dan dia merasa aneh "kenapa tas ini semakin berat" ketika di buka ternyata makanannya telah menjadi batu.
Dari kisah diatas, dapat kita petik hikmahnya adalah dalam keadaan lapar orang bisa lupa diri, sekaligus lupa tuhannya. Inilah yang pada gilirannya memicu keinginan syahwat yang tidak terkendali, kalau ingin belajar lapar itu terkendali pesan Rasulullah adalah dengan berpuasa sebagai suri tauladan yang baik. Kupasan masalah puasa kita tidak banyak kuranng dengan ustad kita yang alumni timur tenngah. Namun ada hal yang sebenarnya belum terkupas secara tuntas adalah istilah "tirakatan". Dalam kalanngan nahdliyiin puasa serinng dibarengi dengan tirakatan tidak tidur, atau makan makanan yang tidak bernyawa. Bahkan Syekh Syaid Al Maliki pernah bertamu ke Mbah Hamid Pasuruan beliau salut dengan ulama yang ada di Indonesia Ilmunya sama, syareatnya juga sama, namun ada yang membedakan dan ini menjadi kekuatan ilmunya memiliki keistimewaan yang tidak sekedar untuk dirinya sekaligus juga untuk masyarakat setempat ialah dengan "tirakatan".
wacana baik dari "kue lokal ke kue nasional" berakibat munculnya persaingan yang tidak sehat, hal ini nampak dengan begitu banyaknya caleg-caleg kita yang menawarkan janji surga melalui kontestan sebagai kendaraan politiknya untuk merebutkan "kursi panas". Pada gilirannya saling menjatuhkan dan menjelekan di mata publik gencar dilakukan oleh team sukses yang ujung-ujungnya memicu distribusi suara yang tidak adil dan bahkan tidak imbang, apalagi MA memutuskan suara terbanyak bisa memungkinkan terjadinya jua-beli suara secara merata di kalangan caleg dan ini bukan lagi menjadi pendidikan politik rakyat untuk menjungjung tinggi nilai-nilai demokrasi.
Pembagian Kue nasional yang nantinya bergulir pada tanggal 9 april menjadi momentum keterwakilan rakyat yang absurt, tak pelak rakyat hanya menjadi "sapi perah" para caleg untuk berkuasa tidak atas dasar kepentingan rakyat tapi atas dasar kepentingan umum. Umum adalah umumnya yang berkuasa (kelompok atau individunya) sedang yang tidak berkuasa tidak umum.
Kasus Ponari menarik untuk disimak, kalau saja ponari dengan kekuatan batunya mencalonkan diri dari sebagai salah satu caleg dia bisa melebihi Parliamentary Thresouhodl atau 2.5 persen dari jumlah pemilih,bayangkan setiap hari yang datang ke rumahnya untuk berobat bisa mencapai puluhan ribu orang yang mengantri untuk mendapatkan batu ajaib tersebut. Bahkan dalam keadaan yang telah menjadi tren dukun cillik ini mampu menghipnotis orang berduyun-duyun datang kerumahnya hingga berakibat fatal, nyawa kemudian menjadi tarohannya, korban nyawa tak terhindarkan.
Batu menjadi rujukan atau alat ponari untuk mendapatkan kemapanan secara ekonomi. Batu tersebut menjadi simbol "hierofani" ada kekuatan yang hinggap didalamnya yang menjadikan dia dapat meraup keuntungan hingga milyaran rupiah. Namun dari kekuatan batu banyak orang mencibir telah terjadi kemusrikan secara nyata. Padahal kalau kita tilik ketika Rasullullah mencium batu hajar aswad sayidina umar protes "kalau saja rasululloh tidak mencium batu ini ini, maka aku tak akan pernah mencium batu ini". Tauladan nabi Kita Muhammad SAW, tidak serta merta memuja batu tersebut akan tetapi justru menta'zhimi batu tersebut adalah juga makhluq Allah.
Selanjutnya apa yang salah dari Ponari ? apakah ponari telah menyebar kemusrikan secara nyata ? dalam istilahnya ada profan dan sakral. Kalau profan itu lebih kearah wujud kebendaan sedangkan sakral adalah sesuatu yang ghaib ini bersatu maka disebut hierofani atau dalam benda tersebut ada kekuatan yang Allah ciptakan untuk Ponari ketika Ponari mampu bersabar untuk menahan kelaparan dan kemiskinan yang kian menggurita di kampungnya sehingga Allah memberikan jalan keluar bagi orang sabar dalam mengahadapi ujian.
Sirojudin mursan Says :
Derida dan dekonstruksinya, hanya satu pendekatan 'know-how' ala failusuf. Bahwa budaya sebagai produk bisa dide-construct, ditempatkan dalam format post-modernism. bangunan rasionalitas, yg sdh establish 'diacak-acak' dengan gaya berpikir yg punya irama tersendiri. Irama seperti the drunken master, yg
mengeluarkan juruh tai chi. Jurus yg melesat seperti senjata bummerang suku aborigin. sekali lagi, irama-nya kaga nentu.
Apa yg terjadi dengan masyarakat kita juga diaklektis sperti itu. Rasional-irrasional,fisika-metafisika, sampe dalam dunia eksak pun dikenal ada istilah quantumm fisic. atau saat imam gazali mengarang 'ihya-ulumudin' itu saat bete-nya para filusuf. Rasionalitas yg dianggap sebagai 'the-only way' ternyata tdk menyelesaikan masalah. oleh Derrida, ada wilayah yg terpikir,tidak terpikir dan tak pernah terlintas dipikiran. Itulah yg oleh ust.disebut 'amr-ta'abuddi'.
buat kita ponari, adalah simbol ke-bete-an masyarakat kita terhadap cara menyembuhkan Dokter melalui rasionalitas, diagnosa-hipotesa dan tindakan medis. Atau masyarakat kita sudah tidak tau lagi bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara yg dianggap 'benar'?
Apa yg terjadi dengan masyarakat kita juga diaklektis sperti itu. Rasional-irrasional,fisika-metafisika, sampe dalam dunia eksak pun dikenal ada istilah quantumm fisic. atau saat imam gazali mengarang 'ihya-ulumudin' itu saat bete-nya para filusuf. Rasionalitas yg dianggap sebagai 'the-only way' ternyata tdk menyelesaikan masalah. oleh Derrida, ada wilayah yg terpikir,tidak terpikir dan tak pernah terlintas dipikiran. Itulah yg oleh ust.disebut 'amr-ta'abuddi'.
buat kita ponari, adalah simbol ke-bete-an masyarakat kita terhadap cara menyembuhkan Dokter melalui rasionalitas, diagnosa-hipotesa dan tindakan medis. Atau masyarakat kita sudah tidak tau lagi bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara yg dianggap 'benar'?
"BESEK MAULID DAN PONARI"
Raymond William menyebut ada tiga definisi budaya; pertama, budaya dapat digunakan untuk mengacu pada suatu proses umum perkembangan intelektual, spiritual dan estetis. Kedua, budaya bisa berarti pandangan hidup tertentu dari masyarakat. Ketiga, budaya-pun bisa merujuk pada karya dan praktik intelektual.
Sesungguhnya apa yang disebut sebagai pemahaman dan pengamalan agama sampai pada batas-batas tertentu merupakan refleksi dari penafsiran subjektif yang muncul dari proses dialog seseorang dengan dunia yang dihadapi, termasuk dunia tradisi dan teks keagamaan.
Fenomena berebut “besek” maulid kemarin coba dipahami sebagai ekspresi kebudayaan yang berangkat dari pemahaman terhadap pandangan hidup tertentu (agama). Budaya rebutan besek sering terjadi dalam masyarakat yang dihinggapi oleh sebuah pengharapan akan datangnya kedamaian dan kebahagian. Besek dianggap sebagai “al-mahdi” yang bisa menyelamatkan dari berbagai persoalan hidup.
Apakah berebut besek adalah cerminan dari masyarakat yang sakit atau berangkat dari kesadaran teologis, lihat fenomena grebek satu suro yang terjadi di kraton jogja atau kiyai slamet di Solo, atau berbagai fenomena sejenis yang terjadi hampir di seluruh plosok dunia, dari berbagai latar belakang agama dan keyakinannya.
Dan kalau coba dicermati, banyaknya pedagang yang berjualan dalam perhelatan akbar tersebut juga berangkat dari kesadaran yang sama, biasanya mereka akan kembali berjualan lagi dalam acara maulid selanjutnya, walaupun secara ekonomis mereka tidak mendapatkan hasil yang sepadan. Karena mereka berkeyakinan bahwa sepulangnya dari acara maulid, biasanya mendapatkan value added…… mitos atau realitas.
* * *
Kita hidup dalam kondisi yang chaos. Chaos adalah kondisi kebingungan, tanda dari materi yang tidak teratur akibat tekanan-tekanan hidup dan obsesi yang membebani. Semua itu adalah kenyataan hidup, kemana pun kita pergi, dunia profan ini memang selalu diliputi oleh konflik ekonomi,politik,antar agama dan antar umat beragama, semua itu selalu muncul dalam keseharian kita. Dan semua berita buruk tentang orang-orang yang menderita, orang yang menikmati penderitaan, orang yang semakin kaya, orang yang semakin miskin, penindas dan yang tertindas, selalu menjadi tontonan dan bacaan setiap waktu.
Mungkin ada satu kesamaan bagaimana mereka bisa keluar dari kondisi tersebut?.
Air menurut Prof. Dr. Masaru Emoto (pengarang buku “the secret life of water”) adalah sumber dari segala kehidupan manusia, air adalah simbol kejujuran, pada air juga ditemukan potensi untuk menyembuhkan. Al-Qur’an menegaskan bahwa “dari air kami jadikan segala sesuatu hidup” (QS.) lihat sejarah peradaban kuno di muka bumi ini (Makkah dengan air zamzam, Mesir dengan sungai Nil, Aztec dengan Amazon).
Lebih lanjut Masaru Emoto yang meneliti air sejak lama mengemukakan, bahwa air bisa merespon keadaan sekeliling yang terpaparkan padanya –termasuk do’a, mantra juga energi positif maupun negatif, dan air mampu mengekspresikannya.
Dalam konteks inilah barangkali fenomena Ponari bisa dipahami. Bahwa pengharapan, do’a dan enegi positif yang terakumulasi pada batu yang dimiliki Ponari yang “jatuh dari langit (baca; kosmos)” bersama geledek dan petir –sebagai wasilah penyembuhan– hajarul aswads.
Fenomena penyembuhan dengan media air bukanlah sesutu yang asing, bukanpula monopoli dukun (duduk tekun).
Kita mungkin sering menyaksikan atau merasakan dalam setiap kesempatan ceramah atau pengajian, air minum al-maghfurlah K.H. Noer Alie yang tersisa biasanya menjadi rebutan para jama’ah dan santrinya, karena diyakini memiliki barokah dan karomah.
* * *
Alakulli hal, fenomena besek maulid dan ponari adalah khazanah dari kebudayaan Islam. Hanya saja menurut Mohammad Arkoun, kita harus mengkaji ulang konsep kesalehan yang berciri vertikalistis sebagai prestasi dan indikasi keberagamaan dan kemudian menawarkan ukuran-ukuran yang lebih empiris dan horizontal. Hal ini tidak bearti mengabaikan prinsip-prinsip vertikal metafisis, melainkan sebuah kontekstualisasi praksis dari iman dalam realitas sosial yang berciri humanistis.
Wallahu’alam….
27 Maret 2009
Nurul Atiq Tajuddin
27 Maret 2009
Nurul Atiq Tajuddin
Re: Keluarga attaqwa Dari Ponari ke Hikmah Maulid Nabi
kata putu wijaya, itu seperti ilmu 'wong-jowo' utak-atik-gatuk'. disambung-sambungin nyambung.
atau bisa juga kita bertanya pada NARUTO, sang penguasa air dan penguasa angin. Bahwa apa yg dilakukan ponari hanya satu manifes budaya yg diterjemahkan dalam konteks masyarakat frustasi.
Masyarakat yg tercerabut dari cara berpikir sehat. Tapi problemnya siapa yg disebut sehat dan siapa yg dikatagorisasikan sakit. Buat kita yg agamis, memandang budaya barat yg permisif,rasional menuju materilism 'das-ding'an sich, adalah masyarakat yg perlu diopname. Tapi buat mereka, apa yg dicapai merupakan
puncak-prestasi dari rangkaian panjang pengusaan manusia atas alam.
Sama halnya, saat Belanda melihat orang pribumi Hindia belanda, yang suka mengadakan tahlilan sehabis kematian. Kata si kompeni "seeh perdori, orang kampung kerjaannya pesta melulu...orang kawinan pesta, orang matipun pesta...makan2..sambil 'nyanyi2'.. koe orang abis2in lo punya doeit...".
Cara kita melihat, dari sudut mana kita memandang, menentukan apa nilai yg di'judge' buat ponari dan yg semisalnya... min ahl-khair atau min ahl-bid'ah dalalah fin naaar.....
dalam pandangan kita yg sehat dan sadar berpikir rasional, ponari-berebut air bekas, dan lain2,itu harus diluruskan. Tapi masalahnya bagaimana kalo i'tikat di masjid, trus rame2 naro botol aqua 'khataman-qur'an". Yg ini gimana ust.nas dan ust.cecep?
atau bisa juga kita bertanya pada NARUTO, sang penguasa air dan penguasa angin. Bahwa apa yg dilakukan ponari hanya satu manifes budaya yg diterjemahkan dalam konteks masyarakat frustasi.
Masyarakat yg tercerabut dari cara berpikir sehat. Tapi problemnya siapa yg disebut sehat dan siapa yg dikatagorisasikan sakit. Buat kita yg agamis, memandang budaya barat yg permisif,rasional menuju materilism 'das-ding'an sich, adalah masyarakat yg perlu diopname. Tapi buat mereka, apa yg dicapai merupakan
puncak-prestasi dari rangkaian panjang pengusaan manusia atas alam.
Sama halnya, saat Belanda melihat orang pribumi Hindia belanda, yang suka mengadakan tahlilan sehabis kematian. Kata si kompeni "seeh perdori, orang kampung kerjaannya pesta melulu...orang kawinan pesta, orang matipun pesta...makan2..sambil 'nyanyi2'.. koe orang abis2in lo punya doeit...".
Cara kita melihat, dari sudut mana kita memandang, menentukan apa nilai yg di'judge' buat ponari dan yg semisalnya... min ahl-khair atau min ahl-bid'ah dalalah fin naaar.....
dalam pandangan kita yg sehat dan sadar berpikir rasional, ponari-berebut air bekas, dan lain2,itu harus diluruskan. Tapi masalahnya bagaimana kalo i'tikat di masjid, trus rame2 naro botol aqua 'khataman-qur'an". Yg ini gimana ust.nas dan ust.cecep?
Re: Keluarga attaqwa Dari Ponari ke Hikmah Maulid Nabi
Cukup mengherankan & mengkuatirkan sesuatu yang tidak mempunyai landasan syari”™at & logika sehat dapat diterima sebagai suatu yang tidak menyesatkan, apalagi dianggap suatu “œkeistimewaan suatu ajaran”. Itulah kasus ponari dengan batu ajaibnya bahkan disejajarkan dengan kemuliaan yang diberikan Allah kepada kekasih-kekasihnya. Secara aqidah hal semacam ini tidak bisa dibenarkan, jangankan batu, terhadap obat yang diberikan oleh dokter yang besar kemungkinan memberi penyembuhan (ada landasan logika & hadits tentang ini) dalam hal inipun kita harus bahkan wajib bersandar dan meyakini hanya Allah yang dapat menyembuhkan. Jangan mencampur adukan persoalan yang satu dengan persoalan yang lain masing-masing mempunyai wilayah kajian & pembahasan yang berbeda. Tidak semua yang melanggar adat kebiasaan bersumber dari keridhoaan Allah, kalau kita berpandangan seperti itu, hal di luar agama Islam pun cukup banyak baik dari Hindu, Budha, Nasrani bahkan penyembah-penyembah berhala sekali pun memiliki itu semua. Lebih ekstrim lagi orang yang mengamalkan hizb tertentu dengan niat mendapatkan suatu yang aneh tetapkan bahwa itu bukan karomah (jadi makanan jin) tidak berpahala, karena dibelokkan niatnya yang seharusnya nur itu naik ke atas dia akan belok ke samping atau kekanan. Sesuatu yang melanggar adat/ logika sehat banyak sekali unsur dan sumbernya baik dari Allah, malaikat, jin, hayalan, pikiran dsb. Bahkan adakalanya masuk akal tapi akibat kedangkalan akal kita maka hal itu dianggap aneh bin ajaib. Karomah-karomah yang dimilik oleh seorang kekasih Tuhan bukan suatu yang diinginkan apalagi dicita-citakan, karomah itu tidak wajib ada pada diri seorang wali, karomah tidak wajib disebarkan (diperlihatkan) hal ini Imam Rifai mengatakan karomah itu diibaratkan “œhaidurrizal” haidnya para wali, karomah itu tidak selalu suatu yang diluar adat kebiasaan/logika, karomah itu adakalanya tidak diberikan di dunia tapi di akhirat, bahkan ada ungkapan seorang sufi “œ Al-istiqomah khoirul min alfi karomah” istiqomah itu lebih baik dari seribu keramat, bahkan kemulian akhlaq, istiqomah dalam menjalankan perintah Tuhan bisa dikatakan karomah, banyak hal tentang ini dalam kajian tasawuf (baca: Mafakhirul aliyah fi ma”™asyiris Syadziliyah, Al-Hikam ibn Athoillah as-Sakandari, al-Qusyairiyah, iqozul himam fi syarhil hikam, Sirrul Asror lisyeikh Abdul Qodir Jaelani, Lathoiful Minan Ibn Athoillah dll, masih banyak). Sebab itu ukuran yang tepat itu adalah Qur”™an & sunah seperti yang diamanatkan oleh Syeik Abil Hasan Ali As-syadzily, bahwa ilham & kasyafpun harus diukur dengan kitabullah dan Sunnah, karena tidak ada jaminan ilham & kasyaf yang ada jaminan Kitabullah & Sunnah Rasulullah. Masalah air sudah banyak dijelaskan oleh Rasulullah Jadi paling bagus normal-normal aje. Wassalam RE: Keluarga attaqwa Dari Ponari ke Hikmah Maulid Nabi Dear bung Ramzi dkk Dalam tiga kali perayaan maulid terakhir di pondok, saya “œberkeliaran” di sekitarnya, dan saya mulai mendapatkan fenomena Ponari itu di pondok kita. Dengan menyamar sebagai orang biasa saya ngobrol dengan para pedagang. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi mengenai tujuan mereka datang ke perayaan maulid selain berdagang. Ada sekitar 5-6 pedagang pendatang yang sempat saya wawancarai. Tiga orang diantaranya mengatakan, tidak apa-apa mereka rugi di tempat ini (perayaan maulid maksudnya), yang penting dia mendapat berkah dan laku berjualan di tempat lain. Dan mereka berbicara dengan keyakinan yang tinggi tentang hal itu. Masyarakat di sekitar ujungmalangpun, yang saya dengar, mulai terpengaruh pemahaman ini. Mudah-mudahan survey saya tidak mewakili keseluruhan para pedagang. Maksudnya, kalau dalam ilmu statistik mereka termasuk dalam “œstandar error” yang letaknya di sebelah kiri dan kanan dalam “œnormal distribution”, dan jumlahnya tidak lebih dari 1 persen (0,05 % + 0,05%)... Kita memang tidak bisa menebak motif seseorang dalam melakukan sesuatu, termasuk dalam hal-hal yang merupakan “œfardhu ain”, misalnya shalat dan haji. Saya mengartikan fenomena ini sebagai tantangan untuk para juru da”™wah untuk mengembalikan pemikiran Islam yang lurus, sebagaimana yang dilakukan Pak Kiai. Saya kira ini memang tugas kita bersama.. Wallahu A”™lam Re: Keluarga attaqwa Dari Ponari ke Hikmah Maulid Nabi
Re: Keluarga attaqwa Dari Ponari ke Hikmah Maulid Nabi Bung adang, manusia bagai 'laron-laron' menuju misykat, mengingatkan sy pada ust.jalaludin, yg slalu sy ikutin pengajiannya di masjid almunawwaroh, belakang rumah beliau di Bandung, tempo dulu. Pendekatan dlm melihat membuktikan betapa kita ky perspektif. Dalam melihat sesuatu, diibaratkan bagai mutiara yg punya banyak 'angel' untuk bisa dinikmati keindahannya. yg penting jgn kita memonopoli apa yg kita sebut 'cara kita melihat' sebagai the ultimate. yg kita perlukan 'hanya' mendialogkannya, sambil mencari kebenaran sesungguhnya. |